Minggu, 10 Juni 2012

Sendengkan Telingamu


Temans, saya ingin berbagi cerita yang saya baca dari salah satu buku.. :-)

Nele pulang dari sekolah: "mama, aku tidak mau lagi pergi sekolah! Mereka semua bodoh! Sekolah itu harus terbakar!" Ibunya terjerbak dalam pusaran emosi. Yang pertama kali muncul di benaknya adalah kesadaran kewajiban: Tidaklah mungkin jika anak perempuan itu dengan gampang mengatakan tidak ingin lagi pergi sekolah!Ketakutan berkembang: Siapakah yang telah berbuat jahat terhadap anak saya? Kekecewaan melanda: Saya telah gagal sebagai ibu jika anak saya sampai ingin membakar sekolah. Kemarahan tersulut: Anak saya tidak boleh berpikir hal yang sedemikian buruk!
Ibu menarik nafas dalam-dalam, sebuah teguran keras berada di ujung lidahnya - namun ia baru ingat: Ia dilarang bicara. Dokter telah memerintahkan hal itu. Dia menelan kembali perkataan keras itu. Apakah yang harus dia lakukan? Ia ingin bereaksi. Ia merasa lelah, duduk di sebuah kursi dan melambai kepada Nele. Anak perempuan itu terkejut. Ia datang mendekat perlahan dan menatap ibunya dengan terheran-heran. Ibu mengajak Nele dengan sebuah gerakan tangan agar duduk di pangkuannya. Nele ragu-ragu. Namun ia pun duduk, menatap mata ibunya dan mengulangi perkataanya, "Saya tidak mau lagi pergi ke sekolah!
Beberapa detik, Nele duduk diam. Kemudian dia memluk ibunya. Mereka terdiam beberapa saat dalam pelukan. "Ah, mama", Nele pun bicara. "Saya tidak bisa mengucapkan banyak kata dalam bhasa Inggris dengan benar. Gurunya selalu memberikan saya kata-kata yang susah. Lalu semuanya tertawa saat saya salah mengucapkan sesuatu. Begitulah." Ibu memeluk erat Nele dan menciumnya. "Terimakasih, Mama! Sekarang saya mau ke rumah teman, mau mengerjakan pr." Lalu pergilah Nele.
"Apakah yang akan terjadi seandainya saya langsung mengumpat?", Sang Ibu bertanya-tanya.
Jika saya ingin mengetahui sesuatu, saya HARUS MENDENGARKAN. Sirakh yang bijaksana menasihatkan kepada anak-anak: "JIKA KAMU INGIN BIJAKSANA, MAKA SENDENGKANLAH TELINGAMU."
Seorang manusia yang telah belajar untuk mendengarkan, saya suka menjadikan dia sebagai teman. Dia akan memahami saya. Dia bahkan akan berusaha untuk memahami saya jika suatu saat saya bingung, jika perasaan saya menjungkirbalikan saya, atau jika reaksi saya aneh. Seorang teman yang mendengarkan akan jarang berkhotbah panjang lebar.
Sendengkanlah telingamu! Sebuah gambaran indah: AKU BERADA DI DALAM KESUSAHAN!TUHAN, SENDENGKANLAH TELINGA-MU KEPADAKU. dalam bahasa sekarangmungkin terdengar seperti ini:
TUHAN YANG MAHAKASIH, DENGARKANLAH SAYA, JIKA SAYA BERADA DI JALUR YANG SALAH. DENGARKANLAH SAYA JIKA SAYA PUTUS ASA. DENGARKANLAH SAYA, JIKA KESULITAN SAYA SANGAT BESAR SEHINGGA SAYA HARUS BISA MENJERIT. -Ya, Tuhan mendengarkan. Selalu. Bercakap-cakaplah dengan-Nya dalam setiap keadaan hidup.
Jika kita memberikan telinga, itu adalah keputusan kita sendiri. Tidak ada yang bisa mempengaruhi kita. Kita dapat mendengarkan yang jahat atau mendengarkan Firman TUHAN. Kita dapat membuka telinga untuk desas-desus dan hal-hal sepeleatau menyendengkan telinga kita bagi org yang berbeban berat, bagi sesama kita yang memiliki kekhawatiran. Banyak orang akan bahagia jika memiliki seseorang yang mendengarkan mereka. Mendengarkan lebih sulit dari pada memberikan nasihat yang baik. "Tetapi seringkali lebih banyak membawa kwuntungan", itulah yang diketahui ibu Nele.
 sendengkanlah telingamu! Tuhan dengarkanlah apa yang kami butuhkan!

Jumat, 25 Mei 2012

Be the New You


Seseorang pernah mengatakan sebuah kalimat yang memang sangat menyentuh hati saya:  ketika engkau bangun dari tidurmu, jangan pernah merasa takut dan gelisah akan hari ini.

Sebuah kalimat yang saya ambil untuk pedoman hidup saya. Ketika saya bangun, saya berdoa, saya mohonkan kepada Bapa: Thank God for the new day and for the new life. It means a lot…. Begitu banyak hal yang saya mohonkan, salah satu hal tersebut: Buatlah kami bisa menghargai hari yang Engkau berikan ini.

Tak lama, hati kecil saya berkata, “saya bisa kuat, saya bisa menjalani hari ini tanpa keraguan dan tanpa rasa gelisah.” Tapi, tau ga sih ketika saya merasa saya kuat dan saya bisa, disitu saya merasa lemah.

Ini tulisan saya di pagi hari ini, saya harap krgelisahan ini tidak berkepanjangan..

Saya jalani hari dengan penuh rasa percaya, kalau Bapa di Surga punya rencana buat saya hari ini, udah di rancang sedemikian rupa, dan ketika nanti malamnya saya tidur, saya berdoa dan saya tahu pelajaran apa yang bisa saya ambil hari itu. Itu yg bisa buat saya kuat menjalani hari-hari saya.

Terlihat sederhana, terlihat seperti tidak ada beban sama sekali bukan? Salah jika kalian berpikir kalau saya menjalani hari-hari saya kuat setiap hari. Terkadang saya merasa lemah, saya merasa tidak cukup kuat untuk menjalani kehidupan saya di setiap harinya.

Tidak menutup kemungkinan kalau saya gelisah saya takut karena faktor “hati”. Kadang ada org bilang, ah apa sih masalah hati aja di buat rumit! Kadang juga ada yang bilang: susah sih ya kalau udah msalah hati ya pasti rumit, dan susah buat sembuh. Itu kan berbagai macam pendapat orang. Betul bukan?

Balik lagi masalah “hati” itu sapa yang buat sih? Ya kalau kita sendiri yang buat jangan pernah ngerasa karena orang lain. Intropeksi diri sendiri  tuh. Yang bisa menyembuhkannya ya diri kita sendiri. Emang ga gampang ngomong gini. Sapa yang ga pernah ngerasain masalah “hati” sih? Sapa? Mungkin kalo yang cuek ya banyak.

Next, kegalaun ada karena ada masalah. Entah itu sama keluarga, sama teman, sama sahabat, ataupun sama orang-orang di sekitar anda. Masalah itu ga pernah ga ada, selalu ada lho. Masalah itu bakalan jadi guru buat kita. Jangan sampe datang masalah yg sama untuk kedua kali nya.

Oke, percaya, tetap kuat, semangat jalani apa yang ada di depan, jangan lihat ke belakang. Ambil yg manis, buang yang pahit. Ga Cuma kesenangan yang kita dapet, kesedihan dating juga kan ya. Sebisa mungkin kita tetap menjadi seseorang yg tidak lemah. Ada Dia jalan bareng sama kita, kalo merasa takut, inget aja Dia lagi ada bareng sama kita ngamatin kita berdoa buat kita setiap saat lho. Masalah hati, ya emang gabisa pergi. Semuanya yang pahit tentang hati, bakalan ketutup kok seiring berjalannya wktu, inget bukan ilang, tapi ketutup. Karena masa lalu bkalan ada terus, tinggal kita nya menanggapi itu seperti apa. Keep moving on! In God, we trust!