Temans, saya ingin berbagi cerita yang saya baca dari salah satu
buku.. :-)
Nele pulang dari sekolah: "mama, aku tidak mau lagi pergi
sekolah! Mereka semua bodoh! Sekolah itu harus terbakar!" Ibunya terjerbak
dalam pusaran emosi. Yang pertama kali muncul di benaknya adalah kesadaran
kewajiban: Tidaklah mungkin jika anak perempuan itu dengan gampang mengatakan
tidak ingin lagi pergi sekolah!Ketakutan berkembang: Siapakah yang telah
berbuat jahat terhadap anak saya? Kekecewaan melanda: Saya telah gagal sebagai
ibu jika anak saya sampai ingin membakar sekolah. Kemarahan tersulut: Anak saya
tidak boleh berpikir hal yang sedemikian buruk!
Ibu menarik nafas dalam-dalam, sebuah teguran keras berada di
ujung lidahnya - namun ia baru ingat: Ia dilarang bicara. Dokter telah
memerintahkan hal itu. Dia menelan kembali perkataan keras itu. Apakah yang
harus dia lakukan? Ia ingin bereaksi. Ia merasa lelah, duduk di sebuah kursi
dan melambai kepada Nele. Anak perempuan itu terkejut. Ia datang mendekat
perlahan dan menatap ibunya dengan terheran-heran. Ibu mengajak Nele dengan
sebuah gerakan tangan agar duduk di pangkuannya. Nele ragu-ragu. Namun ia pun
duduk, menatap mata ibunya dan mengulangi perkataanya, "Saya tidak mau
lagi pergi ke sekolah!
Beberapa detik, Nele duduk diam. Kemudian dia memluk ibunya.
Mereka terdiam beberapa saat dalam pelukan. "Ah, mama", Nele pun
bicara. "Saya tidak bisa mengucapkan banyak kata dalam bhasa Inggris
dengan benar. Gurunya selalu memberikan saya kata-kata yang susah. Lalu
semuanya tertawa saat saya salah mengucapkan sesuatu. Begitulah." Ibu
memeluk erat Nele dan menciumnya. "Terimakasih, Mama! Sekarang saya mau ke
rumah teman, mau mengerjakan pr." Lalu pergilah Nele.
"Apakah yang akan terjadi seandainya saya langsung
mengumpat?", Sang Ibu bertanya-tanya.
Jika saya ingin mengetahui sesuatu, saya HARUS MENDENGARKAN.
Sirakh yang bijaksana menasihatkan kepada anak-anak: "JIKA KAMU INGIN
BIJAKSANA, MAKA SENDENGKANLAH TELINGAMU."
Seorang manusia yang telah belajar untuk mendengarkan, saya suka
menjadikan dia sebagai teman. Dia akan memahami saya. Dia bahkan akan berusaha
untuk memahami saya jika suatu saat saya bingung, jika perasaan saya
menjungkirbalikan saya, atau jika reaksi saya aneh. Seorang teman yang
mendengarkan akan jarang berkhotbah panjang lebar.
Sendengkanlah telingamu! Sebuah gambaran indah: AKU BERADA DI
DALAM KESUSAHAN!TUHAN, SENDENGKANLAH TELINGA-MU KEPADAKU. dalam bahasa
sekarangmungkin terdengar seperti ini:
TUHAN YANG MAHAKASIH, DENGARKANLAH SAYA, JIKA SAYA BERADA DI
JALUR YANG SALAH. DENGARKANLAH SAYA JIKA SAYA PUTUS ASA. DENGARKANLAH SAYA,
JIKA KESULITAN SAYA SANGAT BESAR SEHINGGA SAYA HARUS BISA MENJERIT. -Ya, Tuhan
mendengarkan. Selalu. Bercakap-cakaplah dengan-Nya dalam setiap keadaan hidup.
Jika kita memberikan telinga, itu adalah keputusan kita sendiri.
Tidak ada yang bisa mempengaruhi kita. Kita dapat mendengarkan yang jahat atau
mendengarkan Firman TUHAN. Kita dapat membuka telinga untuk desas-desus dan
hal-hal sepeleatau menyendengkan telinga kita bagi org yang berbeban berat,
bagi sesama kita yang memiliki kekhawatiran. Banyak orang akan bahagia jika
memiliki seseorang yang mendengarkan mereka. Mendengarkan lebih sulit dari pada
memberikan nasihat yang baik. "Tetapi seringkali lebih banyak membawa
kwuntungan", itulah yang diketahui ibu Nele.
sendengkanlah telingamu! Tuhan dengarkanlah apa yang kami
butuhkan!
